Akankah Harga Emas Kembali Rebound?

EmasKITA 100 gram

Harga emas turun tajam paska pengumuman dari the Fed. Harga emas turun 2% ke level $1.796, sebaliknya dollar dan treasury-yield mengalami lonjakan. Treasury yield 2-tahunan naik 1,208% pada Kamis pekan lalu. Sama seperti harga emas spot, bursa berjangka emas juga terpukul atas hasil FOMC Rabu pekan lalu serta beberapa data ekonomi AS yang melebihi ekspektasi. Perak mengikuti jejak emas, sedangkan platinum tidak banyak bergerak. Dollar mengalami lonjakan tertinggi sejak Juli 2020 karena investor bersiap menghadapi kenaikan suku bunga. Saham Asia rebound pada Jumat, setelah sebelumnya mengalami kerugian karena aksi sell-off besar-besaran. Crytocurrencies relatif ‘sepi’ selama beberapa hari terakhir, namun diperkirakan akan kembali berfluktuasi seiring agresifitas the Fed.



Menurut laporan WGC (World Gold Council), permintaan emas fisik menguat di 2021 tertinggi selama 10 tahun terakhir, meskipun menghadapi permintaan lesu di gold-backed exchange. Permintaan emas di sektor perhiasan dan teknologi serta pembelian oleh bank sentral meningkat digerakkan oleh pulihnya perekonomin paska covid. Pertumbuhan tertinggi perhiasan emas terjadi di India (93%) dan China (63%). Menurut analis kondisi ini didorong oleh berkurangnya pengeluaran untuk perjalanan dan hiburan. Sedangkan dari sisi pasokan, diperkirakan adanya shortage 1% di 2021.

Ketua the Fed, Jerome Powell, mengindikasikan bahwa inflasi di AS “sedikit lebih buruk” dibandingkan Desember. Meskipun ekonomi AS tumbuh 5,7% di 2021, namun inflasi Desember merupakan yang tertinggi sejak 4 dekade lalu atau sejak terjadinya krisis 1980. Di momen yang sama Powell juga menginsyaratkan bahwa kenaikan suku bunga akan dilakukan pada Maret 2022 seiring dengan selesainya proses tappering off. Menurut analis, upaya untuk menurunkan inflasi ke target 2% akan membutuhkan waktu minimal 2 hingga 4 tahun. Goldman Sachs memproyeksikan the Fed akan meningkatkan suku bunga 5x tahun ini, yaitu di Maret, Mei, Juli, September dan Desember dengan kenaikan s.d 1,25% s.d 1,5% . Meskipun masih menjadi tanda tanya bagi bank sentra global, apakah langkah ini cukup untuk mengerem inflasi sebelum tekanan harga memicu tuntutan upah lebih tinggi.

Sekutu NATO mengirim senjata ke Ukraina dan menempatkan pasukan dalam siaga tinggi. Tuntutan Rusia agar Ukraina tidak bergabung dengan NATO, ditolak oleh AS. Jika ketegangan ini terus memanas dan berujung diberlakukannya sanksi ke Rusia, maka momen ini akan mendorong kelonjakan harga komoditas, diantaranya harga gas mengingat Rusia merupakan pemasok terbesar. Dan yang akan paling terdampak adalah Eropa di tengah musim dingin. Komoditas lainnya adalah minyak mentah yang sebelumnya telah mengalami lonjakan ke level $87 per barrel. Rusia merupakan produsen minyak terbesar kedua dunia. Selanjutnya ada aluminium, nikel, paladium dan sektor pertanian, terutama gandum.Potensi ketegangan kembali muncul dari Pyongyang setelah hari Minggu kemarin, Korea Utara kembali melakukan pengujian missil.

Diperkirakan aksi sell off akan berlanjut pekan ini. Perhatian pasar kini tertuju pada laporan data keuangan yang bisa cukup buruk untuk membalikkan keadaan. Gelombang Omicron di bulan Desember diperkirakan menghantam aspek ekonomi cukup keras.

Resistensi pertama terlihat di $1,800,00 dan kemudian di $1,815.00.

Support pertama terlihat di terendah Januari di $1.781,30 dan kemudian di $1.775,00.

Disclaimer: Analisa merupakan dokumen internal perusahaan, dirangkum dari berbagai sumber, tidak dijamin 100% keakurasiannya.