Sinyal Campuran The Fed Mempengaruhi Sentimen, Mampukah Emas Mencapai Level Tertinggi di Tengah Dorongan Dedolarisasi?

Resume perkembangan minggu lalu:

  • Aksi dedolarisasi untuk mengurangi ketergantungan penggunaan dolar AS semakin marak. Paska perang Rusia – Ukraina, dimana Barat sepakat memblokir Rusia dari sistem keuangan internasional (SWIFT) sebagai sanksi, memunculkan kekuatiran baru terhadap dollar sebagai “senjata” untuk menekan perekonomian.
  • Bank sentral di berbagai negara mulai menurunkan porsi dolar dalam cadangan devisa, dan sebagai gantinya, memborong emas. Aksi ini terus berlanjut di kuartal I-2023 dimana menurut laporan World Gold Council pembelian emas oleh bank sentral pada Q1-2023 mencapai 228,4 ton emas, atau naik 176% (yoy).
  • Data keuangan AS memberikan sinyal campuran. Terakhir dilaporkan bahwa tingkat inflasi AS pada April 2023 naik 0,4% (mom), memudarkan optimisme penurunan suku bunga Federal Reserves (The Fed). Opini pejabat the Fed pun terbelah antara jeda vs perlunya menaikkan suku bunga.
  • Mendekati 1 Juni, batas AS untuk menaikkan plafon hutang, belum terbaca tanda-tanda dari Kongres. Jika tidak dilakukan kenaikan plafon, AS berpotensi mengalami default yang pertama kalinya dalam sejarah.
  • Demand fisik emas yang melonjak diekspektasikan akan memberikan support trend bullish
    pada harga emas.

Baca dan download artikelnya: