
Jakarta, 7 Februari 2022
Harga emas kembali rebound pada pekan pertama Februari setelah sebelumnya terjun 3%. Laporan
ketenagakerjaan terbaru Jumat lalu sedikit memberi tekanan pada emas, namun harga emas tetap di level
psikologisnya di $1800/oz. Bahkan menurut intelijen Bloomberg, harga emas bersiap reli menembus
$1.900/oz. Kinerja emas diproyeksikan robust di 2022, setelah satu tahun sebelumnya terkonsolidasi di
level $1.700/oz. Secara historis, emas merespon dengan baik siklus kenaikan suku bunga the Fed,
sebagaimana di tahun 2015 yang baru berakhir pada 2019. Semua perhatian tertuju pada keputusan the
Fed bulan Maret. Jika berjalan sesuai rencana, emas mungkin mempunyai landasan yang cukup kuat untuk
menguat seperti di Desember 2015, ketika harga emas dari $1.000/oz meningkat menjadi $1.300/oz
dalam waktu 6 bulan. Namun masih ada faktor x yang menambah ketidakpastian saat ini, yaitu omicron.
Sedangkan emas berjangka April terakhir diperdagangkan pada $1,802.80/oz. Berbeda dengan emas,
harga perak, platinum dan paladium masing-masing mengalami penurunan 0,9%, 0,2% dan 1,9%.
Berbanding terbalik dengan emas, indeks dollar melemah pekan lalu.
Inflasi AS yang tinggi juga membayangi tingkat pengembalian saham dan obligasi. Sebelumnya pada
Januari lalu Nasdaq ditutup dengan penurunan 11% sedangkan S&P500 turun 6%, terbesar sejak Maret
2020. Akhir pekan lalu ditutup dengan kemenangan saham-saham teknologi, salah satunya Amazon
dengan lonjakan 13,5%. Secara keseluruhan, bursa pekan ini ditutup dengan kenaikan Nasdaq 2,4% dan
S&P 1,6%. Sedangkan imbal hasil surat utang Treasury AS 10-tahun saat ini mencapai 1,838%.
Harga minyak diperdagangkan stabil di harga $88,6 per barel. Selain memantau pertemuan OPEC-plus
yang dimulai Rabu dimana diperkirakan kartel akan meningkatkan produksi minyaknya, saat ini perhatian
pedagang juga tertuju pada kondisi terkini di perbatasan Ukraina dan Rusia.
Bitcoin menikmati pemilihan akhir pekan ini setelah sebelumnya goyah. Namun, menurut laporan terbaru
Goldman Sachs, pertumbuhan ekonomi yang lambat 2022 berpotensi terus membebani cryptocurrenies.
Dari India, pemerintah setempat dikabarkan akan mengenakan pajak pendapatan cyrptocurrency dan
aset digital lainnya sebesar 30% atau yang tertinggi di India. Tidak ada data resmi size pasar kripto di India,
namun diperkirakan total kepemilikan sebesar $5,37 milyar. Hal ini menunjukkan bahwa mata uang digital
mulai dapat diterima bank sentral setempat. Bank Indonesia sendiri saat ini juga sedang merumuskan
pembuatan digital rupiah.
Sebagaimana diperkirakan, data ADP AS terakhir menunjukkan bahwa Omicron berdampak pada
penurunan lapangan pekerjaan terutama di sektor rekreasi dan perhotelan. Namun secara mengejutkan
terdapat pertumbuhan yang solid di pasar tenaga kerja.
Update dari the Fed, salah satu pejabat the Fed, Patric Harker, Selasa lalu (waktu setempat) mengatakan
bahwa mungkin langkah yang tepat bagi the Fed untuk menaikkan suku bunga 4x tahun ini di 25 basis
poin, dan bergerak lebih agresif jika ada indikasi inflasi bergerak lebih tinggi. Jika angka ketenagakerjaan
cukup solid s.d Maret, maka ada potensi the Fed akan menaikkan suku bunga s.d 50bps. Sedangkan
menurut FedWatch CME, investor percaya bahwa kenaikan suku bunga tahun ini bisa terjadi 5-6x. Suku bunga diproyeksikan akan dinaikkan ke kondisi seperti sebelum pandemik dengan harapan di akhir tahun
2022 inflasi AS dapat turun kembali ke level 4% atau mungkin 3%.
Namun analis mempunyai sedikit kekuatiran jika siklus kenaikan suku bunga diikuti dengan pengetatan
kuantitatif (pengurangan neraca) dalam waktu sangat pendek akan menciptakan stagflasi, yaitu kondisi
dimana inflasi dan tingkat pengangguran sama-sama tinggi. Menurut sebagian analis, inflasi AS saat ini
bukan inflasi konvensional, melainkan disebabkan adanya bottlenecking di rantai pasokan dan imbas dari
inflasi, sehingga emas kurang reaktif.
Inflasi di Eropa juga meningkat di level 5%, bahkan Bank Sentral Eropa kuatir inflasi akan semakin
meningkat di 2022 melebihi ekspektasi Desember lalu. Bank Sentral Inggris sendiri telah meningkatkan
suku bunga yang kedua kalinya dalam 3 bulan terakhir. Inflasi AS menyebabkan kekuatiran global.
Menurut IMF, kondisi ini mungkin lebih parah dibandingkan krisis 1980, terutama bagi negara-negara
berkembang karena membengkaknya beban utang dan diperburuk dengan Omicron. Sehingga wacana
restrukturisasi utang menjadi krusial.
Bagaimana dengan Indonesia? Inflasi AS berpotensi menyebabkan naiknya biaya import dan logistik,
akibatnya inflasi domestik akan ikut terkerek. Saat ini dampaknya belum terlihat karena pemerintah RI
masih menahan penyesuaian harga BBM dan tarif listrik. BI memproyeksikan inflasi domestik akan mulai
meningkat pada akhir 2022, dalam range 2- 4%. Tingkat inflasi tahunan di Indonesia selama kurun 10
tahun terakhir rata-rata berada di level 1,68%.
Kondisi terakhir dari perbatasan Ukraina – Rusia, dikabarkan bahwa NATO dan Rusia masing-masing
memperkuat pasukan di sekitar perbatasan. Ketegangan Rusia dan Ukraina sempat menjadi pendorong
kenaikan harga emas, namun hal ini bersifat sementara dan semuanya akan kembali ke faktor
fundamental. Menurut pengamat, kecil kemungkinan terjadi konfrontasi militer langsung, melainkan
konflik siber karena interdependancies masing-masing negara yang terlibat sangat tinggi, terkait dengan
supply minyak, nikel dan gas alam. Sementara itu, harga emas bergeming menanggapi serangan AS ke
pimpinan ISIS akhir pekan lalu.
Sebagian analis memperkirakan harga emas akan mempertahankan trend (bullish). Sebagian lagi
berpendapat netral. Emas mempunyai level psikilogis yang cukup solid di $1.800/oz.
Perhatian investor saat ini tertuju pada laporan inflasi AS Selasa ini, dengan konsensus memproyeksikan
di angka 7,3%.
Analisa merupakan dokumen internal perusahaan, dirangkum dari berbagai sumber dan tidak dijamin 100% keakurasiannya.