
Harga emas terbang tinggi sepanjang bulan Maret saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami ketidakstabilan. Dimana nilai IHSG sempat anjlok hingga 7%, membuat Bursa Efek Indonesia menghentikan perdagangan saham pada sesi 1 tanggal 18 Maret.
Gejolak tersebut diawali karena rontoknya saham-saham unggulan (bluechips) dan berlanjut karena beberapa faktor. Faktor-faktor yang menjadi penyebab dari penurunan IHSG Indonesia antara lain:
- Defisit APBN Indonesia;
- Anjloknya penerimaan pajak negara;
- Munculnya isu Sri Mulyani mundur dari jabatannya;
- Pelemahan daya beli masyarakat terutama masyarakat kelas menengah;
- Penurunan peringkat saham RI;
- Kejelasan soal Danantara;
- Perang tarif yang dilakukan Donald Trump.
Disisi lain saat bursa saham di Indonesia mengalami ketidakstabilan, harga emas justru terbang tinggi dan sempat mencapai rekor tertingginya sepanjang sejarah. Hingga pertengahan bulan Maret harga emas mencapai sekitar Rp1.700.000 per gram. Dimana kenaikan harga emas juga menunjukkan bahwa kekuatan emas yang terbukti mampu menjadi aset lindung nilai.
Dalam hal ini, peningkatan harga emas yang signifikan saat harga saham tidak stabil mampu menyadarkan kita akan pentingnya diversifikasi portofolio. Maka dari itu dalam berinvestasi ada baiknya kita untuk menjadikan emas sebagai salah satu instrumen investasi utama karena sifatnya yang lindung nilai, anti inflasi, safe haven, dan likuid.
Setelah memahami secara menyeluruh mengenai kondisi tersebut, penting untuk mengecek harga emas secara rutin. Cek harga emas ANTAM harian dengan cara klik disini.