5 Faktor Yang Mempengaruhi Harga Emas

Secara jangka panjang, harga emas cenderung naik, tapi sama seperti komoditas lainnya, emas juga bergerak relatif fluktuatif. Kira-kira apa saja yang mempengaruhi pergerakan harga emas? Berikut kami telah rangkum untuk anda.

Pergerakan Nilai Tukar

Terutama pergerakan dollar AS karena harga emas global umumnya dinyatakan dalam dollar AS untuk selanjutnya dikonversi dalam Rupiah. Ketika rupiah melemah, seperti saat ini yang menyentuh Rp.15.500, maka harga emas domestik ikut terkatrol naik. Emas dan dollar AS mempunyai hubungan negatif alias berlawanan arah. Ketika dollar AS menguat, harga emas cenderung turun. Sebaliknya jika dollar melemah, orang berbondong-bondong memburu emas, menyebabkan permintaan emas melonjak dan mendongkrak harga.

Permintaan dan Penawaran

Sama seperti komoditas lainnya, harga emas juga dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran. Semakin tinggi permintaan dibandingkan penawaran, maka harga akan terkerek naik. Permintaan emas global biasanya didorong kebutuhan untuk perhiasan, cadangan bank sentral, emas investasi (emas batangan) dan kebutuhan industri, misal medis, elektronik, otomotif, dll. Saat ini konsumen terbesar emas global adalah China dan India. Masyarakat India terkenal sangat menyukai emas dan ketika masuk ke festive season (musim kawin) maka nilai import emas pun meningkat.

Sedangkan di sisi supply, keberadaan emas di alam sangat terbatas. Beruntung sekali bahwa Indonesia merupakan salah satu produsen emas terbesar dunia, tidak lain yaitu dari pegunungan Grassberg Papua.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan harga emas
5 Faktor Yang Mempengaruhi Harga Emas

Suku Bunga Acuan Bank Sentral AS

Sama seperti dollar, emas juga berkorelasi negatif dengan suku bunga bank khususnya suku bunga dari bank sentral Amerika, Federal Reserve atau yang lebih dikenal dengan The Fed. Ketika the Fed menaikkan suku bunga, maka daya pikat emas luntur terkalahkan oleh dollar AS dan orang beralih ke bond, atau instrument sejenis lainnya yang memberikan return lebih tinggi. Saat ini hampir semua bank sentral di seluruh dunia sedang menaikkan suku bunga acuan, tidak terkecuali Bank Indonesia dengan tujuan tidak lain untuk mengendalikan inflasi.

Inflasi

Ketika harga barang-barang naik, maka daya tukar uang semakin turun. Misalnya beberapa tahun lalu harga mie instant berkisar di Rp 1.000 per bungkus, namun saat ini harganya naik menjadi Rp 3.000 per bungkus, jadi masyarakat perlu merogoh kocek lebih dalam. Itu baru mie instant loh ya.

Tapi berbeda dengan emas yang harganya terus bergerak naik, sehingga emas disebut anti inflasi. Alasan inilah yang menyebabkan orang menyimpan sebagian asetnya dalam bentuk emas dalam rangka “melindungi” purchasing power.

Saat ini Inflasi tengah menjadi kekuatiran global, dimana normalnya inflasi berkisar 2% s.d 3%, tapi kini melonjak ke 8% s.d 10%, bahkan ada yang sampai 80%. AS sendiri dikabarkan mencapai rekor inflasi tertinggi dalam 40 tahun terakhir.

Ketidakpastian global

Misalnya ketika terjadi pandemi covid-19 dua tahun lalu atau invasi Rusia ke Ukraina kemarin. Penduduk global dikuatirkan dengan potensi perang dunia dan gangguan supplai pasokan. Kondisi tersebut sempat mendorong harga emas menembus USD 2.000/oz pada Maret 2022.

Kekuatiran akan resesi, ketidakstabilan keamanan, stabilitas dan pertumbuhan ekonomi, mengerek permintaan dan harga emas karena secara historis emas menunjukkan kekuatan sebagai safe-haven.

Jadi tidak ada alasan untuk menunda-nunda berinvestasi emas. Selain bersifat liquid, emas secara jangka panjang nilainya juga naik terus. Mulai alokasikan sebagian budget investasi kamu untuk emas.

Yang perlu dicermati adalah bagaimana memilih emas batangan yang paling tepat. Tentunya pastikan produk emas tersebut mempunyai brand yang kuat, mudah untuk dijual kembali dan mempunyai harga jual kembali yang kompetitif. Siapa yang tidak tahu ANTAM? Saat ini ANTAM berkolaborasi dengan HRTA menyediakan EmasKITA mulai dari pecahan 0,1 gram s.d 100 gram dengan teknologi Bullion Protect® yang memungkinkan kamu mempunyai pengalaman baru memegang emas secara langsung tanpa kuatir risiko pemalsuan.